Friday, July 26, 2013

Cara Membuat Insektisida Organik dari Kotoran Sapi

Selamat datang di blog Saraswati Update, Anda sedang membaca artikel tentang Cara Membuat Insektisida Organik dari Kotoran Sapi Artikel kali ini adalah tentang insektisida organik. Berhubung ada pengunjung Saraswati Update yang menanyakan tentang bahan-bahan pembuat insektisida organik, jika salah satu bahannya tidak ada bagaimana?

Saraswati Update merekomendasikan, jika salah satu dari bahan-bahan untuk membuat insektisida organik seperti di bawah ini sulit didapatkan, maka alternatif lain adalah dengan membuat insektisida organik dengan urin sapi atau hewan lain.
Berikut bahan-bahan insektisida organik pada postingan yang lalu.

Insektisida organik adalah ramuan yang dibuat secara khusus dari bahan-bahan organik (alami) yang digunakan oleh para petani untuk membasmi serangga dan hama tanaman lain yang mengganggu tanaman, baik tanaman buah-buahan maupun sayur-sayuran. Insektisida organik ini dibuat dengan bahan-bahan yang tidak mengandung zat kimia, sehingga tidak memiliki efek samping terhadap tanaman, tanah, lingkungan, maupun manusia itu sendiri. Ini adalah teknologi baru di bidang pertanian sebagai pengganti insektisida buatan pabrik yang mengandung zat kimia. Insektisida organik ini, selain dapat membasmi serangga dan hama tanaman, juga dapat berfungsi sebagai pupuk organik.
Cara Membuat Insektisida Organik dari Kotoran Sapi

Dalam membuat insektisida organik, kita membutuhkan beberapa peralatan, di antaranya blender atau mesin penghalus lainnya, saring atau kain kasa, ember, drum atau tong plastik, kayu untuk mengaduk, untuk menghindari bau menyengat dari proses pembuatan insektisida organik ini bisa juga kita gunakan masker untuk penutup hidung.

Bahan-bahan insektisida organik:

  1. Buah maja
  2. Mengkudu (pace)
  3. Umbi gadung
  4. Biji mahoni dan daunnya
  5. Akar serai (kamijoro/kamijara)
  6. Jahe
  7. Bawang putih
  8. Bawang merah
  9. Daun cocor bebek
  10. Daun dlingo
  11. Brotowali
  12. Daun mindi
  13. Daun tembakau
  14. Kulit pasak bumi
  15. Kapur
  16. Garam
  17. Air
Berikut kami sampaikan, bagaimana cara membuat insektisida organik:

Haluskan semua bahan, setelah halus, campurkan dengan air dan aduk hingga rata sampai menjadi seperti bubur. Tempatkan larutan tersebut ke dalam drum atau tong untuk proses pengendapan selama 3 hari. Setelah 3 hari, saring larutan tersebut untuk mendapatkan airnya. Cairan insektisida organik siap digunakan.

Cara pemakaiannya, larutkan satu tutup jerigen insektisida organik dengan 14 liter air. Jangan menggunakan air ledeng atau PDAM, karena dapat merusak kualitas insektisida organik tersebut. Semprotkan larutan tersebut ke tanaman yang terserang hama atau penyakit secara merata.

Jika salah satu atau beberapa bahan alami tersebut di atas tidak tersedia di tempat anda, mungkin solusinya adalah dengan membuat insektisida organik dengan menggunakan urin sapi atau hewan lain seperti yang Saraswati Update sampaikan pada postingan tentang pupuk organik dari urin sapi atau pupuk variensa, sebagai berikut:

Untuk membuat pupuk organik cair ini tidak diperlukan biaya yang mahal, karena semua bahan sudah tersedia di alam dan di sekitar tempat tinggal kita. Proses pembuatannya sangat mudah yaitu dengan proses fermentasi. Pengalaman yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar kami, urin ini langsung digunakan untuk menyiram tanaman palawija yang sebelumnya hanya dibiarkan dulu selama satu minggu. Cara pemupukan yang demikian itu juga juga memberikan hasil yang lumayan, tanaman palawija menjadi subur dan dapat berbuah lebat, akan tetapi dengan sedikit proses, manfaat dari urin sapi ini akan semakin meningkat dari pada digunakan secara langsung seperti contoh di atas. Untuk membuat pupuk organik cair atau pupuk veriensa diperlukan beberapa bahan yang akan difermantasi, di antaranya adalah sebagai berikut:

Bahan Pembuta Pupuk Organik Cair

  1. Urin sapi 100 liter
  2. Tetes tebu 5 liter (bisa juga diganti dengan gula merah 5 kg)
  3. Susu segar 5 liter
  4. Trasi 2 kilo gram
  5. Jahe 5 kilo gram
  6. Kunir 5 kilo gram
  7. Temu lawak 2 kilo gram
  8. Laos 2 kilo gram
  9. Kencur 2 kilo gram
  10. Broto wali 1 kilo gram
  11. Air rendaman kedelai 1 gelas atau pupuk urea 1 sendok makan
  12. Juga akan lebih bagus jika ditambah bakteri dekomposer (misalnya EM4)
  13. Air 18 liter
Cara pembuatan pupuk organik cair

Empon-empon (jahe, kunir, temu lawak, laos, kencur, brotowali) ditumbuk sampai hancur dan halus, tetes tebu, susu segar, dan trasi direbus hingga mendidih kemudian didinginkan. Setelah dingin, kemudian rebusan tadi dimasukkan kedalam wadah (drum atau jerigen). Kemudian semua bahan di atas juga dimasukkan ke dalam wadah, aduk hingga tercampur rata. Tutuplah wadah tadi (drum atau jerigen) rapat-rapat. Biarkan selama 15 samapai 21 hari untuk proses fermentasi. Selama proses fermentasi berlangsung, setiap 3 hari sekali bahan tadi diaduk hingga rata dan juga untuk membuang gas yang dihasilkan.

Aplikasi dan penggunaan

Setelah 15 sampai 21 hari, pupuk organik cair siap digunakan. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut: kalau POC (pupuk Organik Cair) masih bagus, 1 liter POC dicampur dengan 40 liter air, tetapi jika POC sudah agak rusak atau berubah gunakan 2 liter POC untuk 40 liter air. Penggunaanya adalah setiap 1 hektar tanaman padi membutuhkan 25 samapi 30 liter POC.

Untuk lebih memaksimalkan hasil, penggunaan POC dapat dilakukan dengan takaran 10% yaitu perbandingannya  1 liter POC dicampur dengan 10 liter air. POC dapt pula digunakan untuk perendaman benih yaitu dengan cara merendam benih dengan POC selama 10 menit. Untuk pemupukan daun dapat digunakan 1 liter POC untuk satu tangki semprot.

Manfaat pupuk organik cair

Untuk Pemupukan: pupuk organik cair dapat digunakan untuk zat perangsang pertumbuhan akar tanaman pada benih, juga dapat digunakan sebagai pupuk daun organik.

Untuk Pengendalian Hama: dicampur dengan pestisida dapat digunakan untuk membuka daun yang keriting akibat serangan thrip, untuk mengendalikan hama slundep, untuk mengendalikan hama wereng, untuk mengendalikan hama tikus, dan juga dapat digunakan untuk mengendalikan lalat buah.

Kelebihan dan manfaat penggunaan urin sapi dalan dunia pertanian juga telah Saraswati Update sampaikan dalam postingan terdahulu, sebagai berikut:


Urin Sapi Mengandung Banyak Manfaat

Urine sapi adalah air yang keluar dari alat kelamin sapi yang kita kenal dengan air kencing sapi. Bagi kebanyakan orang, urine sapi merupakan benda menjijihkan yang harus dibuang jauh-jauh. Selain bentuknya yang jorok, urine sapi ini dianggap sebagai zat yang mencemarkan udara karena baunya yang menyengat. Namun bagi sebagian orang yang mengetahuinya, urine sapi merupakan benda yang sangat banyak manfaatnya. Dengan sedikit olah, urine sapi ini menjadi benda yang berharga dalam bidang pertanian, yaitu sebagai pupuk organik yang sekaligus juga sebagai bahan pengusir hama tanaman yang sangat ampuh karena baunya yang menyengat. Urine sapi adalah hasil ekskresi dari alat pencernaan sapi. Urine sapi selain memiliki kandungan nutrisi dan zat hara yang menyuburkan tanah dan sangat dibutuhkan bagi tumbuhan, urine sapi bisa digunakan untuk mengusir serangga. Hal ini di sebabkan karena bau dari urine sapi itu sendiri yang khas dan menyengat yang sangat tidak disukai oleh serangga, sehingga serangga akan menghindar apabila mendapati bau tersebut berada di dekatnya. (Phrimantoro, 1995).

Pemanfaatan urine sapi masih jarang dilakukan oleh petani maupun peternak itu sendiri yang nota bene juga seorang petani. Hal ini karena kurangnya sosialisai oleh petugas dan pengetahuan para peteni dan peternak itu sendiri. Justru malah para blogger atau neter yang sering menggembor-gemborkan tentang pemanfaatan urine sapi bagi pertanian melalui tulisan dan artikel mereka pada media internet. Disadari atau tidak, dengan membiarkan urine sapi ini terbuang begitu saja, sesungguhnya kita telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan yang sangat berharga.

Mengapa zaman dahulu sawah-sawah sangat subur dan jarang terserang hama, itu karena zaman dulu para petani sering menggembalakan kerbau maupun sapi di sawah, sehingga kotoran dan air kencingnya langsung masuk ke sawah yang akhirnya dapat menyuburkan tanah dan mengusir hama tanaman. Dengan penemuan baru di bidang pertanian, ternyata urine sapi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan pengusir hama tanaman yang sangat efektif dan murah, yaitu urine sapi dapat dioleh menjadi insektisida alami.

Insektisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh serangga pengganggu tanaman. Insektisida dapat membunuh serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan meracuni makanannya, dalam hal ini adalah tanaman dan dengan kontak langsung dengan serangga tersebut. Insektisida adalah suatu senyawa atau larutan di mana di dalamnya terdapat unsur-unsur kimia yang apabila tertelan atau terhirup oleh serangga akan mengacaukan system pencernaan serangga tersebut.

Saat ini produk  produk insektisida telah banyak berkembang, baik alami maupun sintetis. Akan tetapi prosentase petani lebih memilih menggunaka insektisida buatan pabrik dengan pertimbangan lebih praktis dan tidak repot serta ampuh dalam mengusir serangga. Padahal apabila di kaji lebih dalam, penggunaan insektisida sintetis dapat menurunkan kualitas produk pertanian. Hal ini disebabkan penyemprotan insektisida tidak hanya mengenai daun sebagai sasaran utama tetapi juga bagian lain tumbuhan temasuk buahnya. Sisa-sisa bahan kimia tersebut akan terus menempel dan terserap hingga mempengaruhi kualitas hasil panen yang akibatnya bila dikonsumsi manusia akan menimbulkan efek negative, misalnya pertumbuhan sel-sel yang tidak pada tempatnya.

Dengan alasan kesehatan dan nilai ekonomis tersebut di atas, maka hendaknya, kita para petani dan peternak memulai memanfatkan urine sapi ini, sebagai bahan organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki kerusakan tanah akibat bahan kimia yang ditimbulkan oleh insektisida dan pupuk pabrikan, dan mengusir hama tanaman .

Demikian Semoga Bermanfaat dan selamat mencoba.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar